Kenangan Hujan dan Secangkir Kopi

Timor Post - Lifestyle · Opini
  • Share
Kontributor: Anggun Gerardine

By : Anggun Gerardine

 

ADVERTISEMENT
SCROLL FILA BA NOTISIA

Menerpa diri yang terjaga. Sendiri berteman senja pada hembusan angin yang berbalur sunyi. Sendiri melanda

tanpa kata lagi darimu sosok yang dinanti dipeninggal cerita yang menepi. Mencoba sejenak saja kamu melihat

dalam senjanya yang bernaung sendirian. Mencoba sejenak saja kamu melihat dalam kesunyian itu, Aku menyelinap

ada disisimu dan menjaga didalam baluran elegi yang mengalir dan menerangi.

Berteman sepi… berteman sunyi… berteman seorang diri. Hanya ditemani dengan secangkir kopiku yang masih setia

menghangatkan dikala raga kedinginan dalam baluran bayang. Secangkir kopi yang bercerita dan selalu

menginspirasi. Secangkir kopi yang selalu mengingatkan akan kenangan demi kenangan yang pernah tercipta dalam

rajutan kasih yang pernah kita alami.

Kenangan didalam secangkir kopi yang setia menemani belum beranjak ingin pergi dalam bayangmu. Ia masih

Baca juga:
Hutan Kopi ‘Sexy’ Di Timor Leste

menyapa diri. Dan diri masih menemani langkahmu dari peufuk senjanya. Abadinya angin pada hujan yang

bercerita akan indahnya kisah. Abadinya angin pada hujan yang mengguyur dalam sembab diri pada tiap kelopak

mata yang memandang. Namun hangatnya kopi dan manisnya elegi rasa yang memikat masih terkecup dalam rasa.

Kenangan didalam hujan… kenangan secangkir kopi yang alurnya masih ingin kembali mengulang episode kisah

kita yang pernah ada. Desiran angin dibawah naungan hujannya yang masih setia bersama didalam berkat pencipta.

Tentang angin yang bercerita pada hujannya. Tentang angin yang selalu setia pada tetesan hujan. Angin akan selalu

menjadi teduhan yang abadi. Hujan pun akan selalu menjadi pelipurnya. Seperti perihal kembali dirimu pun masih

Baca juga:
Group Le-Ziaval Menuju India, Mementaskan Kesenian Timor-Leste

tetap dinanti dengan kesetiaannya. Kembali mu masih menjadi pertanyaan dan teka-teki. Menggelayuti pikiran

antara harapan senandungnya angin dan hujanku. Angin dan hujan tak pernah menanyakan sebab ia selalu setia

menjaga diri dan hati kala badai menerpa. Karena angin dan hujan selalu beriring bersama menjadi kesatuan

didalam kata setia yang alami nan abadi. Keabadian angin dan hujan selalu terkenang. Dan hujan kali ini, masih saja

dengan kesendiriannya menjaga hati. Seperti halnya dirimu yang abadi didalam ruang ingatan hati. Untuk mampu

berbagi kembali menjadi satu piluran hati yang dijaga semesta.

Seandainya dikala putih abu-abu dahulu tak pernah terucap kakata menyudahi, mungkin saat ini kita masih berjalan

bersama mencipta mencinta setia didalam naungan kasih pencipta. Namun takdir rupanya sedang ingin menguji.

Baca juga:
Lomba Renang di Ataúru, Imelda Felicyta Menepati Posisi Pertama

Untuk sejatinya mampu temukan pijakanmu kembali abadi disisi. Sejati dalam diri. Takdir tetap dalam alurnya

tanpa kita mengerti misterinya.

Ia berjalan tanpa permisi dan peduli perihal rasa didalam diri. Mungkin ia sedang meramu keyakinan kita. Kita

hanya mampu memahami hikmah diantara titian hati yang bersembunyi dan dinantikan dengan keajaiban yang

nyata. Diri ini masih dengan setianya sendiri disini berteman bayangmu disisi menanti kembali. Bersama hujan dan

angin yang membawa kenangan bersama secangkir kopi yang menghangatkan diri dengan setianya yang selalu

menginspirasi.

*Penulis adlah kontributor artikel, tinggal di Bandung-Indonesia

 447 total views,  3 views today

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
You have reacted on “Kenangan Hujan dan Secangkir Kopi” A few seconds ago
  • Share

Berita Timorpost Lainnya


Komentar :
Timorpost.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

error: