Mencium ‘Dosa’ Di Bulan Desember

Timor Post - Opini
  • Share
Paus Francisco

Refleksi Natal, Sebuah Tulisan Untuk Direnungkan

FLAMBOYANT. Satu-satu daunnya berjatuhan. Berserakan di pangkuan bumi. Satu-satu kuncup bunganya merekah. Meraaah bunganya. Semuanya meraaah. Indaaah. Semua orang suka bunganya.

ADVERTISEMENT
SCROLL FILA BA NOTISIA

Aku pun memandang bunga itu. Kupetik sekutum. Kuperhatikan warnanya. Meraaah. Ceraaah. Dan  kucium wanginya. Terasa sampai ke bathin. Bathinku melihat  pesan natal dibalik warna merah yang indah itu.

Oooh Tuhan. Aku pun duduk dibawah pohon flamboyant. Kubiarkan merah bunganya  jatuh diatas kepala ku. Jatuh menimpa ubun-ubun hatiku. Menimpa rahasia  hatiku. Rahasia merah. Rahasia darah. Rahasia cinta. Rahasia kasih. Rahasia iman. Rahasia sukacita.

Semerah Kirmisi

Flamboyant. Ketika aku masih kecil di kampungku Akrema (Atauru) orang menyebutnya pohon natal.  Daerah lain pun pasti punya nama sendiri.

Flamboyant  berbunga saat jelang natal. Di pulau timor pada umumnya bunga flamboyan mulai berbunga diawal november. Jadi jauh-jauh hari, alam raya telah  memberi sinyal  bahwa natal sudah diambang pintu.

Baca juga:
Kenangan Hujan dan Secangkir Kopi

Persiapkan hati.  Sebab  sebagai manusia tak luput dari dosa. Dosa kecil, sedang, besar, bahkan dosa sebesar gajah. Cuma hati yang tahu. Cuma hati yang mampu mengucurkan air mata penyesalan.

Sebab kelahiran Yesus dari kandungan Bunda Suci Perawan Maria di kandang hina Bethlehem 2000 tahun lalu, itulah rahasia kasih. Rahasia iman. Rahasia sukacita karena Firman Menjadi Manusia.

Sehingga warna merah bunga flamboyant mesti dilihat dengan mata bathin. Merah adalah warna dosa. Dosa umat manusia memang semerah kirmisi. Hanya bisa dihapus oleh darah Yesus di kayu salib. Di titik inilah ajaran Katolik Roma mengharuskan umatnya melewati masa penantian atau adventus. Melewati adventus  dengan hati yang bernyanyi. Hati yang menari di ruangan Yang Maha Kudus.

Baca juga:
R A J A
Bunga Flamboyan

Mengampuni           

Adventus. Merah bunga flamboyan warnanya semakin pekat. Tampak seperti daraaah. Aromanya  tak  lagi sewangi tadi.  Yang tercium hanyalah bau anyir dosa.

Aku pun diam terpaku. Dibawah pohon flamboyan aku tahu, aku orang berdosa. Dosa terhadap sesama. Dosa terhadap sanak saudara. Dosa terhadap kaka adik. Durhaka terhadap baba-mama.

Ooouh Tuhan. Aku berdosa terhadap sorga dan bumi. Dosaku semerah kirmisi. Dosa kesombongan. Keangkuhan. Iri hati. Dendam. Dengki. Dan lain-lain  yang mengkhianati hati.

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu,” kata Yesus dalam Matius 6:14-15.

Itulah ampunan  tanpa syarat. Ampunan total. Ampunan yang bikin hati gembira. Seperti  para gembala di padang. Gembira mendengar khabar gembira dari para malaekat. Bahwa Yesus telah lahir. Sang Juru Selamat Dunia menjadi manusia.

Baca juga:
Good Bye Kenangan, Welcome Harapan

Maka aku pun berdiri. Berdiri dibawah langit. Mataku menatap ke kiri dan  kanan jalan. Yang terlihat hanyalah merah bunga ‘flamboyan’. Dari ujung ke ujung jalan. Indaaah. Membius. Mengagumkan. Ditingkahi hujan rintik-rintik bulan Desember.

Ooouuh Tuhan. Dibawah langit, ditudungi bunga ‘flamboyan’ yang berguguran,  aku mencium ‘dosa’. Dosa sepanjang jalan hidupku.

Maka lihatlah ke ujung barat pulau Timor, Kupang-NTT. Bunga flamboyan sangat indah memaknai natal. Disana gema lonceng gereja bertalu-talu. Selamat Natal 2022 dan Tahun Baru 2023. Salam dan doa…Amiiin.

(Amos Matalaka/YGL)

 408 total views,  3 views today

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
You have reacted on “Mencium ‘Dosa’ Di Bulan Desember” A few seconds ago
  • Share

Berita Timorpost Lainnya


Komentar :
Timorpost.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

error: