Narkoba: Antara Nikmat dan Kiamat

Timor Post - Nasional · Opini
  • Share
Penulis: MarselinusKali,S.Fil.B.Th

(Penulis: Marselinus Kali,S.Fil.B.Th (Alumni SMUN 1 Dili’99 & alumni Univ. Sanata Dharma’2009; Dosente UNPAZ & hanorin mos iha Seminario Minor Balidi).

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang mengimpikan untuk menjadi bahagia, hanya orang sakit mental yang tak mengimpikan hidup bahagia. Dan usaha mencari kebahagiaan itu, setiap orang menempuh jalan yang berbeda. Para moralis dan rohaniwan/ti berpendapat usaha yang baik dan benarlah yang bisa membuat seseorang merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

ADVERTISEMENT
SCROLL FILA BA NOTISIA


Di era globasasi narkoba (narkotika dan obat terlarang) telah menjadi jalan pintas bagi kaum muda dan segelintir orang untuk mendapatkan kebahagiaan semu/kenikmatan sesaat. Para pecandu narkoba berpikir hanya narkobalah yang memberikan kenikmatan, namun mereka tidak sadar bahwa pada saat yang sama narkoba menjadi sebuah malapetaka bagi dirinya sendiri dan virus pengganggu kehidupan masyarakat pada umumnya, yakni dalam aspek kesehatan, aspek hukum, aspek sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, narkoba menjadi sebuah ancaman yang serius bagi keberadaan sebuah bangsa dan kenyamanan umat manusia pada umumnya.

Pengguna narkoba paling mungkin adalah  di kalangan kaum muda, karena orang muda adalah pribadi yang sedang menikmati masa bebasnya dan ingin menikmati segalanya dalam hidup ini. Anak muda menjadi pecandu narkoba sudah menjadi masalah dunia dan tentu yang harus dicegah dan dibasmi.Tentu saja Timor Leste sebagai sebuah Negara baru tidak mau membiiarkan para pemuda/i-nya terhanyut oleh pengaruh buruk dan bahaya narkoba.

Dan biladibiarkan,maka Timor Leste sebagai Negara baru yang berusaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya hidup masyarakatnya justeru akan dihancurkan sekejap oleh beringasnya narkoba. Narkoba merupakan sesuatu yang sangat dilarang peredarannya, namun dengan canggihnya teknologi modern, telah membantu segelintir orang untuk mempromosi dan mengedarkan narkoba secara rahasia dan cepat.

Tentusaja, “korban” kecanduan narkoba bertambah luas di planet bumi ini. Menurut data UNODC (United Nations on Drugs and Crime), bahwa pada pada 2014 terdapat 540 jenis narkoba yang beredar di dunia. Dengan data ini maka Timor Leste yang masih memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan minimnya peralatan canggih tentu saja tidak lolos dari pengedaran narkoba. Namun kita patut bersyukur dalam keterbatasan ini, para aparat Negara masih mampu mendeteksi para pengedar dan pecandu narkoba untuk diamankan di penjara demi kenyamanan Negara ini.

Dan kita tetap berharap dan mendoakan aparat Negara agar tetap berusaha semaksimal mungkin demi membasmi pengedaran dan penggunaan narkoba pada kaum muda. Melihat pada dampak buruk dari narkoba itu sendiri, maka penyalahgunaan narkoba dengan alasan apapun tidak pernah diijinkan. Dalam aspek kesehatan narkoba merusak mental pengguna, menimbulkan ketergatungan, menimbulkan keracunan dan bahkan kematian.

Dalam aspek sosial, narkoba membuat seorang pengguna akan mengasingkan diri, murung, dan menjadi egois; dalam aspek ekonomi, narkoba mempengaruhi seseorang menjadi koruptor dan pencuri secara mendadak karena harganya yang mahal dan bahkan menghancurkan keluarga.

Paus Fransiskus berkata narkoba menjadi sebuah bentuk perbudakan baru di era modern. Karena telah membujuk orang untuk memuja-muja kenikmatan sesaat, namun sesungguhnya narkoba menuntun orang ke dalam malapetaka. Pecandu narkoba menjadi sebuah luka bagi masyarakat, karena bisa merusak diri seseorang dan mengganggu kehidupan bersama.  Oleh karena begitu besarnya resiko yang ditimbulkan oleh narkoba, maka marilah kita berupaya keras untuk menolak total pengedaran narkoba di Negara  kita Timor Leste.

Bila dibiarkan pengedarannya maka sama halnya kita membiarkan diri kita di Negara ini dijajah dan diperbudak, karena narkoba melenyapkan kebersamaan dan persaudaraan kita dan memejarakan pecandu dalam keegoisan, narkoba melunturkan cinta dan kemurahan hati dan meransang orang menjadi pembenci dan makin rakus akan kenikmatan duniawi. Maka tidak salah kita pun ikut meng-iyakan perkataan Paus Francis bahwa narkoba menjadi sebuah bentuk penjajahan dan perbudakan baru di era modern.

Dengan menolak pengedaran narkoba ini, maka kita sungguh-sungguh ingin memerdekakan Negara ini dari segala bentuk “penjajahan” yang ingin mengebiri mental dan melumpuhkan mimpi putra-putri Timor Leste untuk membangun Negara ini menjadi Negara yang makmur dan bermoral.

Dan bila kita membebaskan diri kita dari narkoba maka kita pun ikut berkontribusi bagi Negara ini yakni lewat hidup bersama dalam cinta persaudaraan, dan berpartisipasi dalam menyukseskan pendidikan. Karena itu sekali saya ingin ingatkan lagi bahwa dampak narkoba sesungguhnya: bukannya menjadi puast api putus asa, bukannya menjadi ceria tapi kecewa, bukannya menjadi sehat tapi sakit, bukannya menjadi bahagia tapi bencana yang menyusul, bukannya menjadi nikmat tapik iamat yang menanti. Oleh karena itu kaum muda dan kita semua perlu mewaspadai diri kita, janganlah membiarkan diri kita diborgol kenikmatan duniawi yang sesaat apalagi narkoba yang ujun-ujungnya adalah penjara atau kematian.

Maka sebagai akhir kata, kita untuk merefleksikan ajaran filsuf-filsuf Epikurianisme bahwa manusia boleh mengejar kebahagiaan sebanyak mungkin dalam hidup, tetapi ingat manusialah yang memiliki kebahagiaan, dan bukan kebahagiaan yang memiliki manusia.*****

 639 total views,  3 views today

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
You have reacted on “Narkoba: Antara Nikmat dan Kiamat” A few seconds ago
  • Share
ADVERTISEMENT
SCROLL FILA BA NOTISIA


Berita Timorpost Lainnya


Komentar :
Timorpost.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

error: